Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-34
(Hakekat Makna Wahdatul Wujud)
“Jika ajaran kami dan para pendahulu kami disebut mengaku Allah, maka pertanyaannya adalah apa yang kami akukan? Jangankan mengaku Allah, mengakui diri pun kami tidak mampu. Kami, kalian, dan seluruh alam semesta beserta isinya ini pada hakikatnya tidak ada, karena yang ada hanyalah Allah.
Pengakuan itu hanya ada bagi yang menganggap dirinya ada, sedangkan kami telah melepaskan keakuan itu. Kita ini berasal dari Allah, untuk Allah, dan kembali lagi kepada Allah.
Segala sesuatu ini terjadi hanya atas kehendak-Nya, dan tidak ada satu pun yang terjadi atas kehendak kita. Bagi kami Allah adalah segalanya. Kecintaan kami kepada-Nya tidak akan terukur oleh tingginya gunung dan luasnya samudra.
Wahai Sang Maha Cinta, Gusti Sajatining Mulyo Allah ʿ’azza wa jalla, jangan biarkan kami tenggelam lagi di dalam lautan kehampaan yang fana ini"
Penjelasan:
Mutiara ini berangkat dari sebuah kesalahpahaman yang kerap dilontarkan kepada para ahli tasawuf, yaitu tuduhan “mengaku Allah”. Padahal, hakikat yang mereka maksud justru sebaliknya: bukan mengaku Allah, bahkan mengaku adanya diri pun mereka tidak mampu.
Sebenanarnya penjelasan tentang Wahdatul Wujud ini sudah dibahas pada pasal-pasal sebelumnya, namun disini Abah akan memberikan penjabaran singkat, terkait memaknai Mutiara hikmah ke-34 ini.
Sesungguhnya, “aku” yang dipandang oleh manusia biasa itu hanyalah bayangan, fatamorgana dari wujud Allah yang Maha Esa. Hakikatnya, segala sesuatu selain Allah adalah fana, lenyap, tidak memiliki keberadaan sejati.
Sebagaimana Allah SWT berfirman:
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍۢ • وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو ٱلْجَلَـٰلِ وَٱلْإِكْرَامِ
“Segala yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”
(QS. Ar-Rahman: 26-27)
Ayat ini menegaskan bahwa keberadaan makhluk pada hakikatnya hanyalah pinjaman. Yang benar-benar wujud hanyalah Allah.
Menghapus “Keakuan”
Pengakuan hanya muncul dari mereka yang masih merasa dirinya ada. Adapun para arif sejati telah menanggalkan “keakuan”, sehingga yang tersisa hanyalah Allah semata.
Imam Al-Junaid Al-Baghdadi berkata:
ٱلتَّصَوُّفُ هُوَ أَنْ يَمُوتَ ٱلْعَبْدُ عَنْ نَفْسِهِ وَيَحْيَا بِرَبِّهِ
“Tasawuf adalah ketika seorang hamba mati dari dirinya, lalu hidup dengan Rabb-nya.”
Inilah inti mutiara: lenyapnya ego, tenggelamnya “aku”, sehingga yang tinggal hanyalah Allah Yang Maha Hidup.
Segalanya dari Allah dan untuk Allah
Mutiara ini menegaskan bahwa kita berasal dari Allah, berjalan untuk Allah, dan kelak kembali kepada Allah.
Firman-Nya:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ
“Sesungguhnya kita milik Allah, dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya.”
(QS. al-Baqarah: 156)
Maka tidak ada satu pun yang terjadi kecuali dengan kehendak-Nya. Tidak ada daya, tidak ada kekuatan, kecuali dengan izin-Nya.
Wahdatul Wujud dan Cinta
Bagi para sufi, Wahdatul Wujud bukanlah teori filsafat kering, melainkan pengalaman cinta yang membakar. Cinta kepada Allah tidak dapat diukur oleh luas samudra, tidak dapat ditakar oleh tingginya gunung. Ia melampaui ruang dan waktu, meliputi semesta, dan kembali meniadakan semesta dalam lautan keesaan-Nya.
Rasulullah saw bersabda:
أَحِبُّوا اللَّهَ لِمَا يَغْذُوكُمْ بِهِ مِنْ نِعَمِهِ
“Cintailah Allah karena nikmat-nikmat yang Dia limpahkan kepadamu.”
(HR. Tirmidzi)
Dan cinta yang sejati itu akan menghapus segala sesuatu selain Allah.
Doa Abah yang disampaikan pada mutiara ini,
Mutiara ini ditutup dengan doa yang sangat indah:
“Wahai Sang Maha Cinta, Gusti Sajatining Mulyo Allah ʿazza wa jalla, jangan biarkan kami tenggelam lagi di dalam lautan kehampaan yang fana ini.”
Doa ini adalah jeritan hati seorang arif yang telah merasakan fana’ dari dirinya, lalu memohon agar Allah meneguhkannya dalam baqa’ bersama-Nya.
Kesimpulan
Hakikat Wahdatul Wujud bukanlah pengakuan sebagai Allah, melainkan kesadaran bahwa tiada yang benar-benar wujud kecuali Allah. Ego dan keakuan telah ditanggalkan, sehingga yang tersisa hanyalah Allah semata. Inilah maqam fana’ dan baqa’ dalam suluk tasawuf: fana’ dari diri, baqa’ bersama Allah.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat
.jpg)

.jpg)


