Selasa, 14 April 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-34 (Hakekat Makna Wahdatul Wujud)

 

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-34

(Hakekat Makna Wahdatul Wujud)


“Jika ajaran kami dan para pendahulu kami disebut mengaku Allah, maka pertanyaannya adalah apa yang kami akukan? Jangankan mengaku Allah, mengakui diri pun kami tidak mampu. Kami, kalian, dan seluruh alam semesta beserta isinya ini pada hakikatnya tidak ada, karena yang ada hanyalah Allah.

Pengakuan itu hanya ada bagi yang menganggap dirinya ada, sedangkan kami telah melepaskan keakuan itu. Kita ini berasal dari Allah, untuk Allah, dan kembali lagi kepada Allah.

Segala sesuatu ini terjadi hanya atas kehendak-Nya, dan tidak ada satu pun yang terjadi atas kehendak kita. Bagi kami Allah adalah segalanya. Kecintaan kami kepada-Nya tidak akan terukur oleh tingginya gunung dan luasnya samudra.

Wahai Sang Maha Cinta, Gusti Sajatining Mulyo Allah ʿ’azza wa jalla, jangan biarkan kami tenggelam lagi di dalam lautan kehampaan yang fana ini"

Penjelasan:

Mutiara ini berangkat dari sebuah kesalahpahaman yang kerap dilontarkan kepada para ahli tasawuf, yaitu tuduhan “mengaku Allah”. Padahal, hakikat yang mereka maksud justru sebaliknya: bukan mengaku Allah, bahkan mengaku adanya diri pun mereka tidak mampu.


Sebenanarnya penjelasan tentang Wahdatul Wujud ini sudah dibahas pada pasal-pasal sebelumnya, namun disini Abah akan memberikan penjabaran singkat, terkait memaknai Mutiara hikmah ke-34 ini.

Sesungguhnya, “aku” yang dipandang oleh manusia biasa itu hanyalah bayangan, fatamorgana dari wujud Allah yang Maha Esa. Hakikatnya, segala sesuatu selain Allah adalah fana, lenyap, tidak memiliki keberadaan sejati.

Sebagaimana Allah SWT berfirman:


كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍۢ • وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو ٱلْجَلَـٰلِ وَٱلْإِكْرَامِ

“Segala yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”

(QS. Ar-Rahman: 26-27)

Ayat ini menegaskan bahwa keberadaan makhluk pada hakikatnya hanyalah pinjaman. Yang benar-benar wujud hanyalah Allah.

Menghapus “Keakuan”

Pengakuan hanya muncul dari mereka yang masih merasa dirinya ada. Adapun para arif sejati telah menanggalkan “keakuan”, sehingga yang tersisa hanyalah Allah semata.

Imam Al-Junaid Al-Baghdadi berkata:

ٱلتَّصَوُّفُ هُوَ أَنْ يَمُوتَ ٱلْعَبْدُ عَنْ نَفْسِهِ وَيَحْيَا بِرَبِّهِ 

“Tasawuf adalah ketika seorang hamba mati dari dirinya, lalu hidup dengan Rabb-nya.”

Inilah inti mutiara: lenyapnya ego, tenggelamnya “aku”, sehingga yang tinggal hanyalah Allah Yang Maha Hidup.


Segalanya dari Allah dan untuk Allah

Mutiara ini menegaskan bahwa kita berasal dari Allah, berjalan untuk Allah, dan kelak kembali kepada Allah.

Firman-Nya:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

“Sesungguhnya kita milik Allah, dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya.”

(QS. al-Baqarah: 156)

Maka tidak ada satu pun yang terjadi kecuali dengan kehendak-Nya. Tidak ada daya, tidak ada kekuatan, kecuali dengan izin-Nya.

Wahdatul Wujud dan Cinta

Bagi para sufi, Wahdatul Wujud bukanlah teori filsafat kering, melainkan pengalaman cinta yang membakar. Cinta kepada Allah tidak dapat diukur oleh luas samudra, tidak dapat ditakar oleh tingginya gunung. Ia melampaui ruang dan waktu, meliputi semesta, dan kembali meniadakan semesta dalam lautan keesaan-Nya.


Rasulullah saw bersabda:

أَحِبُّوا اللَّهَ لِمَا يَغْذُوكُمْ بِهِ مِنْ نِعَمِهِ

“Cintailah Allah karena nikmat-nikmat yang Dia limpahkan kepadamu.”

(HR. Tirmidzi)

Dan cinta yang sejati itu akan menghapus segala sesuatu selain Allah.

Doa Abah yang disampaikan pada mutiara ini,

Mutiara ini ditutup dengan doa yang sangat indah:

“Wahai Sang Maha Cinta, Gusti Sajatining Mulyo Allah ʿazza wa jalla, jangan biarkan kami tenggelam lagi di dalam lautan kehampaan yang fana ini.”

Doa ini adalah jeritan hati seorang arif yang telah merasakan fana’ dari dirinya, lalu memohon agar Allah meneguhkannya dalam baqa’ bersama-Nya.

Kesimpulan

Hakikat Wahdatul Wujud bukanlah pengakuan sebagai Allah, melainkan kesadaran bahwa tiada yang benar-benar wujud kecuali Allah. Ego dan keakuan telah ditanggalkan, sehingga yang tersisa hanyalah Allah semata. Inilah maqam fana’ dan baqa’ dalam suluk tasawuf: fana’ dari diri, baqa’ bersama Allah.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat



Abah Raden Syair Langit Menjelaskan "Jika Engkau Ingin Mendapati Nikmatnya Ibadah Maka Jatuh Cintalah Engkau Kepada Allah"

 


Abah Raden Syair Langit Menjelaskan "Jika Engkau Ingin Mendapati Nikmatnya Ibadah Maka Jatuh Cintalah Engkau Kepada Allah"


Didalam penjelasan video diatas, walaupun memakain bahasa sunda, Abah Raden Syair Langit menjelaskan pentingnya jatuh cinta kepada Allah, karena dengan cinta tidak akan ada paksaan. Beliau menjelaskan, bahwa kenikmatan ibadah akan didapat jika memang kita sudah mencapai maqomat kecintaan kepada Allah yang luar biasa. Dengan cinta, orang akan menikmati ibadahnya, bukan hanya sebatas melaksanakan perintah yang justru nantinya serasa ada paksaan didalam melaksanakannya.

Selengkapnya, silahkan simak video diatas sampai selesai.




Senin, 13 April 2026

Lirik & Certia Dibalik Lagu "Kulalui Dengan Tangis Tiada Henti" Karya Raden Syair Langit

 


Lirik & Certia Dibalik Lagu "Kulalui Dengan Tangis Tiada Henti" Karya Raden Syair Langit


Lagu ini tidak lahir dari kebahagiaan, tapi dari air mata yang bahkan tak sempat aku sembunyikan.

Ada satu masa di mana aku ingin melupakan, tapi semakin aku melangkah pergi, justru semakin dalam aku terikat.

Bukan karena aku lemah, tapi karena rasa itu terlalu nyata untuk diingkari.

Setiap malam aku berbicara dengan sepi, mengulang kenangan yang seharusnya sudah aku kuburkan.

Aku mencoba menghapusnya, tapi hatiku sendiri menolak untuk lupa.

Sampai akhirnya aku sadar, ini bukan hanya tentang ingin memilikinya, tapi Tuhan mengajarkanku untuk bisa mengenal cinta yang lebih tinggi.


Lirik lagu : Kulalui Dengan Tangis Tiada Henti

Cipta : Raden Syair Langit

Lagu ini Dibuat Pada : 2007 M


[Intro]

[Verse 1]

Tetes air mata yang ku jalani

Kini ku pun merindukanmu

Hilangkanlah cinta ini tapi aku pun tak bisa

Tolonglah aku

[Verse 2]

Embun selimuti pagi menghantui hati

Saat teringat wajahmu

Ku harap ku lupakan tapi aku pun tak bisa

Tolonglah aku

[Reff]

Saat malam pun datang

Ku tangisi lagi masa lalu ku yang kelam

Melewati waktu-waktu

Ku lalui dengan tangis tiada henti

[Intro]

[Verse 3]

Mencintai yang fana tiada kan bermakna

Hanya lautan kehampaan

Biarkanlah aku ini tenggelam di dalam hakikat

Cinta kepada-Nya

[Chorus]

Kau juga anugerah yang diberikan-Nya

Cintamu adalah cinta-Nya

Hanya kepada-Nya berikan seluruh hidupku

Terima kasih untuk-Mu

[Reff]

Dialah Sang Maha Cinta

Mencintai-Nya adalah sebuah cinta kesejatian

Engkau hanyalah ujian

Dalam penempahan jiwaku untuk sampai kepada-Nya

Dialah sang Maha Cinta

Mencintai-Nya adalah sebuah cinta kesejatian

Engkau hanyalah ujian

Dalam penempaan jiwaku untuk sampai kepada-Nya

[Intro]


Untuk mendapatkan lagu full nya silahkan tonton video dibawah ini :


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-33 (Jangan Bersahabat Dengan Tiga Macam Orang ini)

 

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-33

(Jangan Bersahabat Dengan Tiga Macam Orang ini)


“Berhati-hatilah, jangan bersahabat dengan ketiga macam manusia ini. Pejabat pemerintah yang kejam, seorang ‘alim yang bermuka-muka, dan orang tasawuf gadungan yang pura-pura paham padahal bodoh tentang hakikat tasawuf.

Pejabat pemerintah yang kejam akan mendholimimu. Dan orang ‘alim yang bermuka-muka akan menipumu. Sedangkan orang tasawuf gadungan, dia akan memberika khayalan semu kepadamu.







Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat






Sabtu, 11 April 2026

71 Karya Lagu Raden Syair Langit & 24 lagu Edisi Transformasi

71 Karya Lagu Raden Syair Langit & 24 lagu Edisi Transformasi 


Cerita Dibalik Lagu - Alhamdulillah Selesai 71 Karya Lagu & 24 Edisi Transformasi

Syair Langit Studio ( Music, Film, Vlog, Entertainment )


Alhamdulillah, dengan izin dan rahmat Allah Subḥanahu wa Ta‘ala, rangkaian karya musik Raden Syair Langit telah sampai pada satu fase yang patut disyukuri.

Sebanyak 71 karya lagu utama, serta 24 lagu edisi transformasi dalam berbagai nuansa dan warna,

kini telah tersusun dan dipersembahkan melalui kanal resmi Syair Langit Studio.

Setiap karya bukan sekedar rangkaian nada, namun jejak perjalanan rasa, doa, dan makna yang diikat dalam syair.

InsyaAllah perjalanan ini belum usai. Apabila waktu dan ilham kembali beriring, karya-karya baru akan kembali dihadirkan.

Bahkan saat ini, proses penggarapan karya ke-72 tengah berlangsung,

sebagai kelanjutan dari alur rasa yang belum selesai.

Ke depan, kami juga akan menghadirkan kisah-kisah di balik setiap lagu, agar makna yang tersembunyi dapat lebih dekat dirasakan, bukan hanya didengar.

Terima kasih atas setiap doa dan dukungan. Semoga setiap nada yang mengalun, menjadi jalan kebaikan dan pengingat akan-Nya.

Jumat, 10 April 2026

Rabithah Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

 

Rabithah رابطة

Dalam konteks tarekat, rabithah secara harfiah berarti ikatan atau hubungan. Secara khusus, rabithah merujuk pada ikatan batin yang kuat antara seorang murid dengan gurunya dalam sebuah tarekat, serta ikatan dengan Rasulullah SAW, dan akhirnya dengan Allah SWT. Tujuan dari ikatan ini adalah untuk membimbing murid dalam perjalanan spiritualnya, membantu melawan hawa nafsu, serta mempererat hubungan dengan Allah.

Rabithah juga bisa dilaksanakan dengan mengingat rupa guru (Syekh) dalam ingatan seorang murid. Praktek rabithah ini merupakan adab dalam pelaksanaan dzikir seorang salik, yaitu sebelum seorang salik berdzikir untuk melaksanakan dzikirnya, maka terlebih dahulu ia harus mengingat gurunya yang telah menalqin dzikir kepadanya. Mengingat itu bisa dilakukan seperti mengingat  wajah guru, mengingat seluruh pribadinya, atau prosesi ketika ia mengajarkan dzikir kepadanya. Ingat, hal ini tidak boleh dilakukan dalam shalat, rabithah hanya dilakukan saat kita akan melakukan amaliyah seperti dzikir, atau amaliyah-amaliyah lainnya yang diajarkan guru mursyid. Maksud dari rabithah ini adalah sebagai bentuk mengingat guru yang menjadi wasilah pelantara Allah kepadanya, sehingga ia berharap mendapatkan  keberkahan dari Allah dengan rabithah itu sendiri.

Sedangkan dalam urusan shalat, maka semuanya harus disandarkan secara utuh kepada Allah.

Maksudnya adalah, jangan sampai ada pelaku tarekat yang sedang melakukan shalat malah mengingat guru, ini adalah pemahaman yang salah kaprah, bahkan pada dasarnya, dalam melakukan amaliyah apapun diluar shalat, melakukan rabithah itu maksudnya adalah diawal, selain mengingat guru, kita bisa tawasul mengirimkan fatihah kepada guru, agar semoga mendapatkan keberkahan dari Allah. Namun saat pelaksanaan dzikir, semua nya harus tetap tertuju kepada Allah, sudah tidak ada lagi guru, tidak ada lagi kita, tidak ada lagi seluruh alam semesta dan isinya, karena dihati hanya ada Allah, tidak ada lagi tempat untuk yang lainnya.

Rabithah yang paling utama itu dengan mengaplikasan adab kita terhadap Guru. Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya, apalagi kepada guru tarekat, maka semua itu akan menimbulkan dampak yang buruk kepadanya. Seperti diantaranya hilang berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya, tidak dapat menyebarkan ilmunya, dan dia tidak bisa mencicipi manisnya makrfiat walaupun setetes.

Syariatnya, guru merupakan aspek besar dalam penyebaran ilmu, apalagi jika yang disebarkan adalah ilmu tarekat, karena guru yang mengajarkan ilmu tarekat, mereka adalah orang yang mengajarkan ilmu lahir dan ilmu bathin agar engkau mengenal Allah.

Para pewaris Nabi, begitulah julukan mereka para pemegang kemulian ilmu Agama Allah, dan mereka itu memiliki derajat yang tinggi dihadapan Allah SWT.

Ketahuilah sedulur-sedulur, para pengajar Agama mulai dari yang mengajarkan iqra sampai para ulama besar, pada hakikatnya mereka semua ada didalam pesan Rasulullah saw.

Beliau ngadawuh,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَم ْيُجِلَّ كَبِيْرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua, dan menyayangi yang lebih muda, serta yang tidak mengerti hak ulama”

(HR. Ahmad)

Tersirat dari kasauran Kanjeng Nabi Muhammad saw, bahwa mereka para ulama wajib di perlakukan sesuai dengan haknya. Akhlak serta adab yang baik merupakan kewajiban yang tak boleh dilupakan bagi seorang murid.

Para ulama adalah salah satu suri tauladan untuk manusia setelahnya. Karena mereka telah memberikan contoh dalam penghormatan terhadap seorang guru.

Sahabat Abu Sa’id Al Khudri (أبو سعيد الخدري) berkata,

كُنَّا جُلُوساً فِي الْمَسْجِدِ إِذْ خَرَجَ رَسُولُ اللهِ فَجَلَسَ إِلَينَا فَكَأَنَّ عَلَى رُؤُوسِنَا الطَيْرُ لَا يَتَكَلَّمَ أَحَدٌ مِنَّا

“Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung, tak satu pun dari kami yang berbicara”

(HR. Bukhari)

Ibnu Abbas (ابن عباس), seorang sahabat yang ‘alim, mufasir Quran umat ini, seorang dari ahli bait Nabi, beliau pernah menuntun tali kendaraan Zaid bin Tsabit Al-Anshari (زيد بن ثابت الأنصاري) dan berkata,

“Seperti inilah kami diperintahkan untuk memperlakukan para ulama kami.”

Berkata Abdurahman bin Harmalah Al-Aslami (عبد الرحمن بن حرملة الأسلمي),

“Tidaklah seorangpun berani bertanya kepada Said bin Musayyib (سعيد بن المسيب), sampai dia meminta izin, layaknya meminta izin kepada seorang Raja.”

Ar-Rabi’ bin Sulaiman (الربيع بن سليمان) berkata,

 “Demi Allah, aku tidak berani meminum air dalam keadaan Guruku Asy-Syafi’i (الإمام الشافعي) melihatku karena segan kepadanya.”


Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi (أبو بكر أحمد بن الحسين بن علي بن عبدالله البيهقي), bahwasannya Umar bin Khattab (عمر بن الخطاب) mengatakan,

تَوَاضَعُوا لِمَنْ تَتَعَلَّمُونَ مِنْهُ العِلْمَ

“Tawadhulah kalian terhadap orang yang kalian pelajari ilmu darinya.”

Imam Syafi’i (الإمام الشافعي) berkata,

“Dulu aku membolak balikkan kertas di depan guruku Imam Malik bin Anas (الإمام مالك بن أنس) dengan sangat lembut, karena segan padanya, dan supaya dia tak mendengarnya.”

Abu ‘Ubaid Al Qosim (أبو عبيد القاسم) berkata,

“Aku tidak pernah sekalipun mengetuk pintu rumah seorang dari guruku, karena Allah berfirman,

وَلَوْ اَنَّهُمْ صَبَرُوْا حَتّٰى تَخْرُجَ اِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝٥

“Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka, sesungguhnya itu lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

(QS. Al-Hujurat: 5)

Sungguh mulia akhlak mereka semua, diantara yang menjadi suri tauladan untuk kaum muslimin. Tidaklah heran mengapa mereka semua menjadi ulama besar, sungguh keberkahan ilmu yang mereka dapat, diantaranya karena akhlak mulia mereka terhadap guru-gurunya.

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

"Seseorang akan bersama dengan yang ia cintai."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Ulama tasawuf menafsirkan, bahwa mahabbah ruhaniyyah yang mendalam kepadaNabi Muhammad saw atau kepada mursyid akan menghadirkan kebersamaan ruhani (rabithah), meskipun secara fisik berjauhan.

Penjelasan Ulama Tasawuf:

Imam an-Nabhani dan Syekh Ahmad Zarruq menegaskan bahwa rabithah merupakan bagian dari adab dan ta’alluq ruhani antara murid dan mursyid.

Di dalam setiap tarekat, rabithah diajarkan sebagai latihan untuk menghadirkan mursyid dalam hati, agar hati tidak kosong dan tetap terjaga dalam muraqabah. 


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Kamis, 09 April 2026

Muraqabah Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

 

Muraqabah مراقبة


Muraqabah artinya merasakan kehadiran dan pengawasan Allah SWT dalam setiap tindakan dan keadaan. Diantara pengaplikasian dari muraqabah adalah bertafakkur, atau mengheningkan cipta dengan penuh kesungguhan hati, dengan penghayatan bahwa dirinya seolah-olah berhadapan dengan Allah, meyakinkan hati bahwa Allah senantiasa mengawasi dan memperhatikannya, sehingga dengan latihan muraqabah ini, seorang salikin akan memiliki nilai ihsan yang baik, dan akan dapat merasakan kehadiran Allah di mana saja dan kapan saja ia berada.

Ajaran muraqabah ini bermacam-macam, dan memiliki beberapa pembagian. Ada di antara tarekat yang mengajarkan tiga macam tingkatan, ada yang empat, ada yang tujuh, dan bahkan ada yang lebih banyak macam tingkatannya didalam muraqabah itu sendiri.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”

(QS. Qaf: 16)

Ayat ini mengandung rahasia agung bagi para salik. Bahwa Allah tidak hanya menciptakan jasad manusia, tetapi Dia juga Maha Mengetahui segala lintasan hati yang paling tersembunyi. Bahkan, Dia lebih dekat kepada hamba-Nya daripada urat lehernya sendiri.

Muraqabah tumbuh dari keyakinan bahwa tidak ada ruang bagi hati untuk bersembunyi dari pengawasan Allah. Maka siapa yang menanamkan ayat ini dalam lubuk jiwanya, niscaya ia akan hidup dalam kesadaran ilahiyah yang terus menyala, dan kehinaan maksiat akan menjadi aib yang tak berani dilakukan.

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ

“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.”

(QS. Al-Ḥadid: 4)

Kehadiran Allah bersama hamba-Nya tidaklah terbatas oleh ruang dan waktu. Ia adalah ma'iyyah khashshah, kebersamaan istimewa yang diberikan kepada orang-orang beriman dan bertakwa.

Ayat ini meneguhkan keyakinan para penempuh jalan ruhani bahwa dalam sepi maupun ramai, dalam sujud maupun diam, Allah senantiasa hadir. Muraqabah menjadi pintu untuk memasuki alam batin yang teduh, tempat seorang hamba merasa tidak pernah sendiri. Rasa ma’iyyah ini yang menumbuhkan adab, malu, khusyuk, dan cinta.

---------------------------------------------------------------------------------

Kata معيّة berasal dari akar kata م-ع-ي yang berarti bersama. Dalam konteks tasawuf dan teologi Islam, ma‘iyyah merujuk pada kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya, yang terbagi menjadi dua:

Ma‘iyyah ‘Ammah (المعية العامة):

Kebersamaan Allah dengan seluruh makhluk-Nya melalui ilmu, kekuasaan, dan pengawasan-Nya. Berlaku umum bagi semua makhluk.

Ma‘iyyah Khaṣṣah (المعية الخاصة):

Kebersamaan istimewa yang diberikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya, yakni para nabi, wali, dan orang-orang yang bertakwa. Ini mencakup penjagaan, pertolongan, dan kasih sayang-Nya secara khusus.

---------------------------------------------------------------------------------

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ، فَإِنَّهُ يَرَاكَ

"Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."

(HR. Muslim, no. 8)

Inilah maqam ihsan, puncak tertinggi dalam perjalanan seorang salik. Muraqabah menjadi awalnya, musyahadah menjadi puncaknya.

Ketika seorang hamba mampu beribadah dengan perasaan seolah-olah ia melihat Allah, maka seluruh gerak hidupnya menjadi dzikir. Namun bila belum sampai pada maqam itu, maka cukup baginya untuk yakin bahwa Allah melihatnya, dan keyakinan itu saja sudah cukup untuk menjaga hati dari kekosongan makna.

Hadits ini mengajarkan bahwa hakikat muraqabah bukanlah pengawasan yang menakutkan, melainkan kehadiran yang menghidupkan. Hamba yang senantiasa merasa diawasi, akan menjauhi kegelapan, dan berjalan menuju cahaya yang abadi.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-34 (Hakekat Makna Wahdatul Wujud)

  Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-34 (Hakekat Makna Wahdatul Wujud) “Jika ajaran kami dan para pendahulu kami disebut mengaku Allah, ...